Selasa, 17 November 2009

CERPEN
MIMPI
--> Mimpi Dulu, diwaktu kakekku masih hidup, adalah sosok yang sangat berani. Dari beraninya itu beliau diajdikan keamanan kampung oleh bapak kepala desa. Kakekku tidak menolak tawaran itu. Jelas, sebab beliau hanya bekerja sebagai seorang kuli dan sebagai kerja sampingan beliau terima saja. Pada suatu malam yang pekat. Kakekku biasanya sudah standbay di gardu. Beliau langsung jaga malam setelah tadi siang pekerjaan untuk jaga malam ditawarkan oleh pak kades. Kakekku duduk di atas yang khusus dibuat utnuk tempat jaga malam sambil menekukkan kaki kanannya dan tubuhnya yang agak renta ditelan masa, disandarkannya pada tiang gardu yang terbuat dari kayu. Untuk menghilangkan kesepiannya kakekku merogo sakunya, lalu mengambil sebatang rokok, kemudian menyulutnya dengan korek api yang tak lupa beliau bawa. Ketika kakekku sedang asik menyeruput rokoknya yang tinggal setengah lagi, tiba-tiba beliau dikejutkan sesuatu. Suara, ya suara aneh dari bawah gardu yang sedang di diami kakekku. Kakekku tidak merasa takut sedikitpun. Kakekku membiarkannya saja. Tapi pikiran kakekku yang membuatnya penasaran, sehingga beliau mulai niat untuk lihat kebawah. Entah ketakutan yang tiba-tiba datang meyelimuti kakekku ketika suara dari arah bawah gardu itu bertambah keras. Tambah mengerikan dimalam yang semakin larut. Bikin bulu kuduk kakekku jadi berdiri. Dalam keadaan kalut menyelimuti kakekku. Beliau mulai ingat apa yang dikatakan pak kiyai di kampung dulu ketika masih muda, disaat dimana kakekk kecil mengaji. “Sul, jika kamu diselimuti rasa takut, coba kamu tenangkan diri dengan membaca ayat kursi.” Ucap pak kiyai waktu itu. Kakekku mencoba mengingat-ingat hafalan ayat kursinya. Tanpa ragu lagi beliau melafadzkan ayat kursi penuh penghayatan. Suara syahdu terdengar di balik suara nakal jangkrik malam. Suara aneh itu tiba-tiba terdiam bisu. Tak bersuara. Kakekku akhirnya juga ikutan membisu. Namun tiba-tiba suara yang seperti orang ngorok itu kembali bersuara. Lagi-lagi kakeku baca ayat kursi, kali ini dengan membacanya pakai lagu mujawwadah tak beraturan. Suara itu kembali diam. Aneh, takut, berani, kalut menyelimuti kakekku. Suara itu kembali muncul untuk yang kesekian kalinya. Kali ini lebih menyeramkan, seperti orang digorok lehernya. Sesaat kekekku berikir, suara ini menakut-nakuti saya rupanya. Dengan rasa jengkel karena dari tadi dipermainkan kali ini kakekku tidak main-main. Buktinya beliau langsung betindak bak prajurit dilepas kemedan perang. Semangat membara. Dengan ini beliau lalu menundukkan kepalanya kekolong gardu. Dan tiba-tiba kakekku tertawa sunyi. Mungkin sesuatu telah merasukinya atau mungkin hantunya lucu kali. Kakekku tertawa terkekeh-kekeh bersama desiran angin malam yang berhembus kencang. Rupanya beliau sedang mendapati seekor kucing yang sedang sakit. Diangkatnya makhluk malang ini keatas, lalu diletakkan di gardu. Kakekku mengelus-ngelus bulunya yang tgidak teratur. “Dasar kucing nakal,” ujarnya suatu kali di beranda rumah mengakhiri cerita kakekku. Itu adalah cerita kakekku yang sudah meninggal tiga tahun lalu yang sempat beliau ceritakan padaku ketika aku masih berumur sepuluh tahun. Kata kakekku cerita ini adalah kisah yang paling berkesan dalam hidupnya. Tapi bagiku cerita ini adalah sebuah penghargaan yang ditorehkan kakekku kepadaku. Aku sangat menyayanginya dan menghormati dirinya. Bagiku mahkota peniggalannya itu adalah lebih dari cukup.# # # Kemarin malam aku ditimpa kisah yang sama seperti kakekku. Kisah ini sangatlah mengerikan bagiku. Waktu malam Jum’at yang konon malam dimana jin-jin gundul sering keluar malam tiba. Apalagi Kliwon. Widih, serem banget deh. Pada malam itu aku keluar rumah untuk beli obat buat adikku yang sedang sakit panas. Biasa seakarang lagi musim hujan, jadi maklum kalau adikku sakit demam. Aku mulai berjalan menyusuri jalan setapak menuju warung Mpok Ramlah dengan payung di tangan. Malam ini hujan deras sekali, jadi aku harus pakai payung plus jaket tebal pemberian ayahku untuk melindungiku dari dingin. Brrrrttt!!! Dingin.. Di tengah perjalanan menuju warung tiba-tiba ada suara seperti orang berjalan dari arah belakangku. Cprat ciprut !! Cprat cprut !! Aku tidak berani menoleh kebelakang meski suara sandal berjalan itu semakin dekat dengan arahku berjalan. Kupercepat langkahku. Suara itu mengejar. Kuberhenti lari. Suara itu diam sunyi. Aku yang penakut kini gemetar tidak terarah. Tapi moga aja aku tidak pingsan disini. Sepertinya suara ciprat ciprut itu yang seperti orang berjalan di atas genangan air itu masih menungguiku untuk segera beranjak. Deght!! Deght!! Tiba-tiba bulu kudukku berdiri tegang. Kembali aku berjalan dan kali ini langkahku cepat, tapi suara sandal cipratan itu menghentikan langkahku. Dan lagi sura itu bisa bicara. “Gus, Agus kamu kok terburu-buru sih, mau kemana?” suara aneh itu rupanya tahu namaku. Aku nerasa tidak kenal dengan suara itu kalaupun kenal dimana kenalan? Aku tak berani menoleh kebelakang. Kini hujan mulai mau reda, rintik-rintik. Aku takut, gugup, gemetar. “Agus, pertanyaanku kok nggak dijawab sich?! Coba kamu noleh sini deh, aku ini temanmu Gus, Ratna. Masa udah lupa. Kawan SMP mu dulu itu lho..” Kembali suara itu terdengar. Dingin. Aku masih tak peduli. Aku masih tidak ingin menengok ke belakang. Tiba-tiba ada sesuatu yang menganjal pikiranku tentang sebuah nama yang disebunya barusan. Ratna, ya Ratna. Memang ada temanku yang bernama Ratna waktu smp dulu. Bahkan aku pernah jadi pacarnya. Tapi bukannya Ratna sudah tiada…? Terus, yang dibelakangku ini siapa? Apa betul dia Ratna? Jadi…?! “Tolooonggg!!!” aku berteriak setengah mati ditengah rintikan malam. Aku berlari kencang. Kudengar kikikan tawanya mengantarkanku pada….. Plak!!! Satu pukulan mendarat di pipiku. Panas. Aku terlonjak bangun dari tidur. “Kerjaannya kalo tidur ngigau terus. Baca do’a atuh ndok kalo mau tidur. Bangun, dah siang tuh.” Huh, untungnya cuma mimpi. Sukuuur dech alhamdulillah…?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar